Bagaimana Masyarakat Menghadapi Pandemic Covid-19?

corona-virus-emojis-vector-set-green-covid-coronavirus-smiley-emoticons-scary-facial-expression-pandemic-carton-183041450Pandemi Covid-19 ini telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat dunia termasuk Indonesia. Dengan kasus yang terus bertambah, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan preventif dalam menekan penyebaran Covid-19 di Indonesia.Kebijakan yang diberlakukan pemerintah dalam penanganan Covid-19 menimbulkan berbagai dampak disetiap segi kehidupan seperti ekonomi, sosial, agama dan psikologis. Dari psikologis yang dapat dilihat salah satunya adalah gambaran respon emosi yang dirasakan masyarakat terkait dengan anjuran pemerintah. Respon emosi ini dirasakan berbagai kalangan masyarakat termasuk masyarakat yang berada dalam kelompok rentan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Holmes, dkk (2020), mengenai konsekuensi kesehatan mental dari lockdown dan isolasi sosial juga dirasakan oleh kelompok yang rentan termasuk mereka yang memiliki masalah kesehatan mental atau fisik, individu yang pulih, dan mereka yang menjadi tidak sehat secara mental sebagai respon terhadap kecemasan dan kesepian saat pandemic.

Untuk mengeksplor lebih lanjut Center For Indigenous (CIP) Fakultas Psikologi UIN suska melakukan penelitian respon dan koping masyarakat terhadap pandemic Covid-19. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2020 pada 325 masyarakat Riau dan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan open ended questionnaire. Kuesioner ini merupakan salah satu dari sekian banyak instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian. Pertanyaannya terdiri dari dua (2) buah pertanyaan: (1) Apa yang paling Anda rasakan saat pemerintah meminta Anda menjaga jarak, tetap dirumah, tidak boleh berkumpul, memakai masker, dan lain-lain terkait penangananCovid-19?; (2) Bagaimana cara Anda mengatasi hal tersebut?

Berdasarkan hasil analisis terhadap pertanyaan terbuka pada 325 partisipan diperoleh sebagai berikut: Respon emosi pada masyarakat terhadap anjuran pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 adalah emosi negatif (60,9%), emosi positif (31,4%) dan merasa biasa saja (7,1%). Bentuk emosi negatif yang muncul dalam penelitian ini adalah kebosanan, kesedihan, rasa takut, terkekang, tidak senang, kesepian, kebingungan dan amarah. Kategori respon emosi kedua yaitu emosi positif sebanyak 102 (31,4%) respon jawaban.Bentuk emosi positif yang muncul dalam penelitian ini adalah senang, merasa baik, rasa amandan tenang.

Berdasarkan jenis kelamin tidak ada perbedaan yang signifikan antara respon emosi jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir partisipan, masyarakat dengan kelulusan Magister atau S2 dan Doktoral atau S3 sebagian besar merespon anjuran pemerintah terkait penanganan Covid-19 dengan respon emosi positif. Sedangkan pada tingkat pendidikan akhir Sekolah Menengah Atas dan Sarjana atau S1 lebih banyak memberikan respon negatif. Pada data demografi pekerjaan mahasiswa, pelajar dan yang tidak bekerja cenderung merespon dengan respon emosi negatif. Sedangkan partisipan yang bekerja merespon dengan respon emosi positif. Masyarakat yang tinggal di kawasan yang menerapkanPembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB merespon dengan respon emosi negatif lebih
tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang tidak tinggal di kawasan yang menerapkan PSBB.

Berdasarkan hasil kategorisasi strategi koping masyarakat menunjukkan bahwa strategi yang digunakan terbagi ke dalam beberapa bentuk yaitu: planful problem solving (57,5%), escape avoidance (18,2%), self control (8,6%), positive reappraisal (7,1%), religius coping (5,2%), dan tidak tahu (3,4%)

 

copingDari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat merespon anjuran pemerintah dalam penanganan Covid-19 dengan emosi negatif, positif dan merasa biasa saja. Bentuk respon emosi negatif seperti bosan, sedih, dan takut. Selain itu, masyarakat juga merespon anjuran pemerintah dengan emosi positif seperti senang, penilaian baik dan merasa
aman. Strategi koping yang dilakukan masyarakat adalah dengan planful problem solving seperti dengan melakukan kegiatan dan mentaati peraturan; escape avoidance yaitu dengan memanfaatkan media sosial atau mencari hiburan; self control dengan tetap berada dirumah; positive reappraisal dengan menumbuhkan perasaan positif dan berfikir positif; dan religius coping dengan melaksanakan ibadah. Penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19 merupakan tugas kita bersama, disarankan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dengan mematuhi anjuran protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah sehingga bisa menjaga diri sendiri dan orang sekitar. Bagi pemerintah, diharapkan memberikan kejelasan informasi mengenai penyebaran dan penanganan Covid-19 guna mengurangi efek psikologis yang negatif bagi masyarakat. Untukpeneliti selanjutnya, penelitian ini terbatas pada subjek penelitian, sehingga diharapkan untukmelakukan penelitian lebih mendalam dengan subjek yang lebih banyak.

 

Sumber: M. Algi Saputra, ,dkk (2020). Gambaran Respon Emosi Dan Strategi KopingMasyarakat Terhadap Anjuran Pemerintah Dalam  Penanganan Pandemi Covid-19. Proceeding. INTERNATIONAL E-CONFERENCE & CALL FOR PAPER KPIN: Human Behavior in the New Normal Post Pandemic:Challenges and Opportunities for Psychology in the Archipelago

About admincip admincip

Check Also

Keberbaktian Remaja pada Ayah: Pendekatan Indigenous Psychology

Berbakti kepada ayah merupakan hal yang penting bagi remaja di Kota Pekanbaru Riau, yang identik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *